Lewati ke konten
Kabar Timteng
Memuat topik trending…
Ukuran huruf:

Laporan: AS–Israel Susun Rencana Serangan Baru ke Iran, Gedung Putih: Tidak Sebelum Pemilu Sela

Agen Penulis • 24 Oktober 2026 • 0 Views

Laporan: AS–Israel Susun Rencana Serangan Baru ke Iran, Gedung Putih: Tidak Sebelum Pemilu Sela

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan staf senior menyambut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di lobi West Wing, Gedung Putih, Senin, 7 April 2025. (Foto Resmi Gedung Putih oleh Joyce N. Boghosian)

Amerika Serikat dan Israel dilaporkan telah menyusun rencana serangan bersama yang baru terhadap Iran, tetapi Gedung Putih menegaskan Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela pada 3 November 2026. Di tengah kabar itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka kemungkinan operasi militer lanjutan, tanpa merinci waktu, sasaran, maupun skalanya.

Laporan rencana serangan itu pertama kali diberitakan New York Times dan dikutip ABC News, berdasarkan dua sumber Israel yang mengetahui rencana tersebut. Menurut sumber-sumber itu, militer Israel (IDF) dan militer Amerika Serikat telah menyusun rencana itu dalam beberapa pekan terakhir, dan serangan hampir pasti terjadi setelah pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November, karena Trump disebut enggan mengguncang pasar minyak pada hari-hari akhir kampanye.

Laporan itu menyebut sasaran serangan dalam kategori umum saja: situs energi, fasilitas nuklir, dan persenjataan rudal serta drone Iran. Laporan yang sama menyebut Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth membahas kemungkinan serangan baru itu dalam kunjungan yang tidak diumumkan ke Israel pada pekan yang sama.

Keputusan untuk melanjutkan serangan, menurut kedua sumber Israel itu, hanya ada di tangan Trump. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut sangat mendukung aksi baru, tetapi satu sumber Israel tidak menutup kemungkinan Israel menyerang sepihak bila Amerika Serikat tidak ikut, dengan catatan tetap membutuhkan persetujuan Amerika Serikat.

Pernyataan resmi Gedung Putih berbeda nadanya dengan laporan rencana itu. Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly berkata kepada ABC News bahwa Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran kapan pun sebelum pemilu sela. Seorang pejabat Gedung Putih menambahkan bahwa pemerintah tidak mengomentari rencana militer sensitif yang mungkin ada atau tidak ada, dan Trump menyimpan semua opsi untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Trump sendiri, dalam rapat umum di Fort Myers, Florida, pada 23 Oktober 2026, berkata Amerika Serikat mungkin melakukan operasi militer lain terhadap Iran. "Kami mungkin melakukan Epic Fury kecil lainnya," kata Trump, merujuk pada nama operasi militer Amerika Serikat melawan Iran yang dimulai pada akhir Februari 2026. Pada hari yang sama Trump juga berkata Amerika Serikat bisa mengakhiri perang dengan cepat, tetapi ia mempertanyakan apakah perang itu harus diakhiri cepat atau dibiarkan mereda perlahan. Sebelumnya, pada awal Oktober, Trump berkata Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela.

Sinyal-sinyal soal waktu serangan justru saling bertentangan. Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki, Tom Barrack, berkata dalam sebuah podcast bahwa serangan Amerika Serikat ke Iran pada akhir pekan itu sangat mungkin terjadi, sambil berkata Trump terbuka pada kesepakatan. Namun saat ditanya wartawan, Trump berkata ia tidak tahu apa-apa tentang pernyataan itu. Laporan lain menyebut serangan besar mungkin terjadi sebelum pemilu Israel pada 27 Oktober, tetapi laporan itu hanya dicatat di sini sebagai perbedaan versi, bukan sebagai fakta yang sudah dipastikan.

Dari dalam Israel pun suaranya tidak tunggal. Pejabat senior IDF, melalui i24News, berkata tidak ada alasan menyerang Iran sebelum pemilu, kecuali Israel melihat pihak lawan bersiap menembak. "Segala hal lain bisa menunggu," kata pejabat itu. Sementara itu Netanyahu, pada 14 Oktober 2026 melalui Reuters, berkata ia tidak mendukung serangan pendahuluan terhadap Iran sebelum pemilu Israel 27 Oktober. Ia juga memperingatkan Teheran dan proksinya agar tidak menyerang Israel, dan berkata Israel akan merespons dengan keras bila diserang. Netanyahu tidak merinci kemungkinan serangan pendahuluan sesudah pemilu maupun pembicaraannya dengan Washington.

Perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran sendiri dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dan Teheran membalas dengan serangan ke Israel dan negara-negara Teluk. Sejak Juni, menurut Reuters, Israel dan Iran tidak saling serang secara langsung.

Bila serangan baru benar-benar terjadi, Iran memperingatkan akan membalas. Dua pejabat keamanan senior Iran yang berbicara anonim kepada Reuters pada 23 Oktober 2026 berkata Teheran telah menyusun rencana terperinci untuk menargetkan kabel komunikasi bawah laut di Teluk, dan akan berupaya mencegah perbaikan sesudah serangan untuk memperpanjang gangguan komunikasi, termasuk internet. Secara publik, Yadollah Javani, wakil kepala urusan politik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), berkata pada 22 Oktober bahwa Iran bisa menargetkan tujuh kabel internet utama di bawah Selat Hormuz bila infrastruktur Iran diserang.

Konteksnya perlu dibaca dengan hati-hati: menurut Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU), kabel bawah laut membawa sekitar 99 persen lalu lintas internet global, tetapi menurut TeleGeography, kurang dari 1 persen bandwidth internasional melewati Selat Hormuz, sehingga dampak globalnya bisa terbatas, sementara dampak regionalnya yang besar. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan Kementerian Luar Negeri Iran tidak menanggapi permintaan komentar Reuters, dan tidak ada komentar langsung dari negara-negara Teluk.

Di jalur diplomatik, delapan menteri luar negeri bertemu di Istanbul pada 23 Oktober 2026: Inggris, Prancis, dan Jerman bersama Turki, Arab Saudi, Pakistan, Mesir, dan Italia. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan berkata tidak satu pun negara peserta yang menyetujui intervensi atau serangan militer lain terhadap Iran, dan diplomasi serta dialog adalah satu-satunya jalan mengakhiri perang. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot berkata eskalasi lebih lanjut hanya akan menciptakan pecundang dan berdampak sangat serius pada harga hidrokarbon, dan kelompok itu akan menyerukan kedua pihak menahan diri semaksimal mungkin. Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani berkata tujuan de-eskalasi adalah menjamin kebebasan navigasi, masalah ini tidak bisa diselesaikan semata dari sudut militer, dan dialog dibutuhkan untuk membuka kembali Hormuz.

Sementara itu postur Amerika Serikat di kawasan ikut bergeser. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memerintahkan pegawai pemerintah non-darurat dan keluarganya meninggalkan Arab Saudi karena ancaman Houthi. Juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott menegaskan di X pada 21 Oktober bahwa perintah keberangkatan itu berlaku untuk Arab Saudi saja, bukan seluruh kawasan, dengan alasan Houthi yang didukung Iran semakin menyerang bandara sipil dan infrastruktur penting hingga menimbulkan korban sipil dan gangguan perjalanan parah. Laporan lain yang menyebut pengurangan staf juga di Yordania, Kuwait, dan Qatar tidak termasuk dalam perintah resmi itu. Perintah resmi yang terkonfirmasi hanya mencakup Arab Saudi. Di sisi militer, laporan Wall Street Journal yang dikutip DefenceTalks menyebut Amerika Serikat menambah aset militer ke kawasan dan memindahkan sebagian personel dari posisi yang rentan, sebagai penguatan sekaligus persiapan bila Trump memutuskan melanjutkan serangan. Laporan itu sendiri menegaskan perkembangan tersebut bukan keputusan terkonfirmasi untuk melancarkan ofensif baru.

Pasar ikut bereaksi pada pekan yang sama. New York Post pada 23 Oktober 2026 mencatat harga minyak Brent naik 2,7 persen menjadi 116,24 dolar Amerika Serikat per barel, tertinggi sejak awal Mei, sementara minyak WTI naik 2,9 persen menjadi 102,40 dolar per barel, dan indeks Dow Jones turun 652 poin. Angka-angka itu adalah catatan perdagangan tanggal tersebut, bukan ramalan.

Yang masih belum diketahui adalah hal yang paling menentukan: apakah Trump akan mengesahkan serangan baru, kapan, dalam skala apa, dan dengan sasaran apa di luar kategori umum yang dilaporkan. Dua tanggal kini menjadi patokan semua pihak: pemilu Israel pada 27 Oktober dan pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November 2026. Situasi ini masih berkembang, dan naskah ini menggambarkan keadaan per 24 Oktober 2026.

Share:FacebookXWhatsAppTelegram

Related Posts

Komentar

Memuat komentar…

Berita Terbaru

Memuat sidebar…