Retorika Trump tentang Selat Hormuz Bertujuan untuk Mengendalikan Harga Minyak; Iran Memiliki 'Kejutan Besar'
Bintang • 8 Maret 2026 • 0 Views

TEHERAN – Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengeluarkan ancaman untuk membuka paksa jalur perairan strategis tersebut dan menjanjikan serangan militer yang lebih keras terhadap Iran. Langkah retoris ini dinilai oleh berbagai pakar militer sebagai upaya mendesak untuk mengendalikan lonjakan harga minyak dunia yang telah melampaui ambang batas $91 per barel menyusul pecahnya konflik bersenjata di kawasan tersebut sejak akhir Februari.
Menanggapi ancaman tersebut, sumber militer Iran menyatakan bahwa Teheran telah menyiapkan "kejutan besar" yang melampaui sekadar penguatan sistem pertahanan. Iran mengklaim telah berhasil menghancurkan sejumlah infrastruktur radar musuh dan memperingatkan bahwa hari-hari yang lebih sulit tengah menanti Amerika Serikat.
Meskipun Selat Hormuz secara teknis belum ditutup sepenuhnya, Angkatan Laut Iran telah menegaskan dominasi penuh mereka dengan menargetkan kapal-kapal tanker yang berafiliasi dengan AS dan Israel sebagai balasan atas agresi militer yang menewaskan pemimpin tertinggi mereka.
Di sisi lain, Presiden Trump memerintahkan United States Development Finance Corporation (DFC) untuk segera menyediakan asuransi risiko politik bagi kapal dagang, terutama pengangkut energi, yang melintasi Teluk.
Kebijakan ini diambil guna meredam kekhawatiran perusahaan pelayaran dan menekan inflasi domestik di AS, mengingat harga bensin di Amerika telah melonjak drastis hingga lebih dari $3,46 per galon. Trump bahkan berjanji akan mengerahkan kapal perang Angkatan Laut AS untuk mengawal langsung setiap tanker minyak guna menjamin arus ekspor tetap berjalan.
Namun, upaya AS untuk menstabilkan pasar energi ini menghadapi tantangan besar di lapangan. Para analis mempertanyakan kecukupan aset angkatan laut Washington di wilayah tersebut untuk menjamin keamanan ratusan kapal yang saat ini terdampar di Teluk Persia.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, justru memberikan peringatan provokatif dengan menyatakan bahwa Iran menunggu kedatangan armada pengawal AS tersebut di jalur air sempit yang mengalirkan sepertiga minyak dunia itu.
Konflik ini meletus secara tak terduga di tengah berlangsungnya negosiasi nuklir yang dimediasi oleh Oman, setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Teheran yang memicu gelombang operasi pembalasan "Janji Sejati 4".
Saat ini, pasar global terus memantau setiap pergerakan di Selat Hormuz, karena gangguan lebih lanjut di jalur ini tidak hanya akan memperparah krisis energi global, tetapi juga dapat menyeret kekuatan dunia ke dalam konfrontasi militer langsung yang lebih luas.
Read More
Related Posts
InternasionalInternasional • 24 Oktober 2026
Laporan: AS–Israel Susun Rencana Serangan Baru ke Iran, Gedung Putih: Tidak Sebelum Pemilu Sela
InternasionalInternasional • 22 April 2026
Perang Iran berarti lebih banyak pesanan untuk raksasa pertahanan AS
InternasionalInternasional • 28 Maret 2026
Militer Israel Perluas Invasi Darat dan Bombardir Beirut di Tengah Perlawanan Sengit Hizbullah
Komentar
Memuat komentar…






